- Back to Home »
- Tambahan »
- Tujuh Minggu Pertemuan Berharga
Posted by : Unknown
8 Jul 2015
Pertemuan
ke-1
Perjalan dimulai pada
saat minggu pertama tepatnya tanggal 5 Maret 2015. Berawal dari pertemuan awal
kami dengan Bu Ismawati Retno (Bu Isma). Beliau memberikan tugas untuk menulis
di kelas dengan tema bebas. Setelah selesai menulis, kami diperintahkan untuk
membuat blog. Blog ini menjadi sarana kami mempublikasikan tulisan. Tulisan
pertama kami di pertemuan pertama ini akan menjadi artikel pertama kami di blog
(untuk yang tidak mempunyai blog sebelumnya).
Pertemuan
ke-2
Artikel pertama kami
dikoreksi setelah Bu Isma telah membaca semuanya. Sebagian besar sudah cukup
bagus dalam menulis. Walaupun ini baru pertamanya menulis, tulisan ini telah
menjadi batu loncatan pertama kami yang baik. Namun, ada beberapa koreksi di
luar masalah teknis seperti paragraf yang terlalu panjang dan judul yang kurang
eye catching.
Oh iya, sebelum Bu Isma
memulai mengoreksi tulisan kami, beliau menanyakan hal-hal apa yang membuat
kami susah menulis. Banyak sekali yang diutarakan teman-teman satu kelas
dimulai dari memulai tulisan dengan apa, cara mengembangkan kata-kata,
penentuan tema, memilih judul, dsb.
Bu Isma pun menjawab
segala problematika. Untuk memulai tulisan, Bu Isma memberi tips untuk menulis
dahulu apa yang kami pikirkan. Apa saja bentuknya yang terpenting tulis dahulu.
Setalah selesai menulis barulah kita baca kembali tulisan tersebut dan
memperbaikinya.
Sedangkan mengenai
permasalahan pemilihan judul, carilah kata-kata yang mewakili tulisan kita
secara menyeluruh atau mengutip dari beberapa kata yang ada ditulisan kita.
Pengambilan kata dari tulisan pun harus yang mewakili keseluruhan isi tulisan.
Tips untuk
mengembangkan kata-kata dalam tulisan adalah dengan banyak membaca. Dengan
banyak membaca dari berbagai referensi membuat wawasan kita semakin luas.
Wawasan yang luas itulah menjadi bahan kita dalam mengembangkan tulisan.
Dalam menentukan tema,
cobalah memilih tema-tema yang kita kuasai. Hal-hal yang kita kuasai membuat
kita mudah dalam mendeskripsikan atau menjelasan tentang tulisan yang kita
buat. Maka jangan heran apabila kita akan terus menulis tanpa berhenti. Itu
disebatkan kita mempunyai banyak ide tentang apa saja yang ingin kita tulis.
Di pertemuan kedua ini,
Bu Isma memberikan tugas kepada kami untuk menulis kembali dengan tema yang
bebas. Sangat variatif sekali tema yang dipilih teman-teman. Ini mebuktikan
bahwa teman-teman mempunyai banyak ide akan tetapi malas menuliskannya apabila
tidak ada paksaan. Tulisan yang telah selesai dikumpulkan di meja Bu Isma dan
beliau langsung membacanya di tempat. Setelah dibaca semua, tulisan kami itu
disuruh untuk dipublikasikan melaui blog kami.
Pertemuan
ke-3
Kami bertemu Bu Isma
kembali di hari Kamis, 19 Maret 2015. Bu Isma kembali membuka pertemuan dengan
menanyakan permasalahan yang kami alami selama menulis. Permasalahan yang
terjadi kurang lebih sama seperti di pertemuan sebelumnya. Bu Isma kembali memberikan
solusi dari permasalahan kami tersebut dengan sabar dan terperinci sehingga
semua merasa puas dengan penjelasan yang diberikan.
Di akhir pertemuan kami
diberikan tugas yang berbeda. Kami disuruh menulis mengenai perigatan ulang
tahun Provinsi Yogyakarta yang lebih dikenal sebagai “Hadeging Nagari Ngayogyakarto Hadiningrat”. Dalam pencarian bahan,
kami dibebaskan ingin terjun langsung ke lapangan atau hanya mencari info dari
sumber lain.
Pertemuan
ke-4
Hari ini wajah Bu Isma
terlihat berbeda dari biasanya. Kami tidak tahu apa yang terjadi. Saat
pertemuan di mulai, Bu Isma sedikit kecewa ternyata banyak yang tidak disiplin
dalam menulis. Beliau hanya melihat beberapa artikel yang diposting sampai Rabu
malam sebelum kuliah dimulai keesokan harinya. Melihat fenomena tersebut, Bu
Isma menetapkan deadline dari tulisan yang kita buat untuk di-upload ke blog yaitu setiap Minggu
malam.
Tugas hari ini kami
disuruh mewawancarai grassroot (akar
rumput) yang ada di kampus. Grassroot adalah
orang-orang terbawah dalam struktur formal kampus. Mereka terdiri dari Office Boy, tukang kebun, hingga satpam.
Wawancara ini merupakan sarana dari kami mencari data untuk membuat sebuah
tulisan. Banyak sekali grassroot yang
menjadi narasumber dalam pencarian bahan. Tiap grassroot hanya boleh diwawancarai maksimal 4-5 orang.
Sehabis wawancara, kami
kembali ke kelas dan mulai membuat tulisan menggunakan data yang telah
dikumpulkan. Tiap orang dibebaskan memilih angle
dalam tulisannya. Walaupun mewawancarai orang yang sama, tidak menutup
kemungkinan tulisan yang dibuat akan berbeda.
Pertemuan
ke-5
Jreng...
jreng... jreng..
Hari ini akan diumumkan
6 tulisan yang akan mendapatkan buku dari Bu Isma. Tulisan yang terpilih dinilai
cukup bagus dan kreatif dalam membuat tulisan. Walaupun hanya berbahankan
wawancara dengan grassroot, kita bisa
mengembangkan tulisan menjadi berbagai macam tulisan yang cukup menarik.
Semua tugas
dikembalikan dengan catatan-catatan yang membangun. Dan seperti biasa,
pertemuan diisi oleh evaluasi mengenai permasalahan yang kita hadapi dalam
menulis. Saya sangat menyukai dengan sistem yang diterapkan oleh Bu Isma.
Segala sesuatu yang kita lakukan tidak akan bernilai apabila hanya sekedar kita
melakukannya tanpa ada evaluasi. Evaluasi dilakukan dalam rangka meningkatkan
mutu, baik itu tulisan maupun pekerjaan lain, agar menjadi lebih baik. Tidak
ada yang instan. Semuanya itu butuh proses.
Dalam rangka melatih
kepekaan kami sebagai mahasiswa STMM Yogyakarta, Bu Isma memberikan kami tugas
untuk membuat tulisan mengenai kegiatan yang terjadi di kampus. Deadline yang
diberikan hingga tanggal 5 April pukul 23:59.
Pertemuan
ke-6
Banyak sekali variasi
tema dari tulisan teman-teman. Mulai dari screening
film Cak Munir, pameran bungan yang dikaitkan dengan kampus, PMB, hingga
program radio. Tulisan yang dibuat makin berkembang seiring berjalannya waktu.
Bu Isma memberitahu
bahwa di koran Tribun pagi ini ada salah satu mahasiswa STMM yang ditulisannya
dipublikasikan. Nama mahasiswa tersebut adalah Gufron. Mas Gufron ini merupakan
mahasiswa kedinasan. Tulisan beliau sudah sering dipublikasikan di koran.
Bu Isma memberi
tantangan kepada kami apabila ada yang bisa menulis hingga dipublikasikan di
koran Tribun maka akan mendapatkan nilai A tanpa harus UAS.
Cara agar bisa tembus
ke media adalah menulis sesuai dengan gaya bahasa dari media tersebut. Tiap
media mempunyai gaya bahasa yang berbeda-beda. Oleh karena itu, mengenali gaya
bahasa dari media yang kita sasar untuk publikasi merupakan kunci utama.
Selanjutnya, pilihlah judul yang menarik. Judul merupakan nyawa dari tulisan.
Pembaca tertarik membaca suatu tulisan diawali dengan melihat judulnya. Judul
yang menarik membuat pembaca ingin membacanya dan sebaliknya judul yang tidak
menarik jangan harap ada yang membaca. Judul juga merupakan pertimbangan rektur
untuk memilih tulisan yang ingin dipublikasika. Setiap harinya banyak sekali
tulisan yang masuk ke media. Dengan melihat judul, redaktur akan mudah
menseleksi tulisan. Dan tips yang terakhir adalah cari sudut pandang yang
bagus. Pemilihan angle/sudut pandang
dalam menulis merupakan awalan yang sangat penting. Sudut pandang yang bagus
dapat mebuat hal-hal yang kecil menjadi sangat bermanfaat dan berguna.
Pertemuan
ke-7
Bu Isma membawa Mas
Gufron ke kelas. Beliau sharing mengenai pengalamannya mulai dari awal menulis
hingga sekarang. Banyak sekali perjuangan. Mulai dari paksaan yang harus
menulias tiga berita dalam satu hari. Hingga sekarang sudah terbiasa dan
terlatih kepekaannya mengangkat hal-hal kecil menjadi sebuah berita yang
berharga. Pesan dari Mas Gufron yang saya ingat adalah dalam proses belajar
menulis, kita boleh mencari referensi tulisan. Setelah menemukan referensi yang
pas, coba tiru tulisan tersebut dengan menggunakan kata-kata kita. Tidak
apa-apa meniru asalakan tidak meng-copy
paste tulisan orang lain.

